Powering the Future:
Advancing Green Data Centers in Indonesia
Tempat
Tanggal & Waktu
Pertumbuhan industri digital Indonesia telah memasuki babak baru dengan perkembangan yang pesat dari teknologi artificial intelligence (AI). Kecanggihan teknologi AI memberikan kesempatan untuk mengolah data dengan volume yang besar dalam kurun waktu singkat. Guna mendukung kebutuhan pengolahan data, kebutuhan akan data center sebagai infrastruktur penunjang meningkat. Berdasarkan proyeksi dari Bank Dunia, permintaan atas data center tumbuh di angka 16.8 persen per tahun hingga 2029, setara dengan kapasitas 1.41 GW.
Pertumbuhan yang pesat dari data center tidak dapat dipisahkan dengan aspek kelistrikan. Seiring dengan peningkatan jumlah pengguna internet dan data yang diolah maka data center mengonsumsi energi yang semakin tinggi. Sebagai contoh, di negara bagian Virginia Utara, Amerika Serikat, konsumsi listrik dari data center mencapai 26 persen dari total konsumsi listrik.
Sementara itu, tekanan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca semakin kencang di berbagai belahan dunian. Peningkatan konsumsi listrik akibat intensitas pekerjaan data center mendorong pentingnya penggunaan energi terbarukan. Penggunaan energi terbarukan tercermin dalam komitmen yang dilakukan oleh berbagai Perusahaan teknologi kelas dunia–seperti Meta, Google dan Amazon–melalui komitmen dekarbonisasi.
Upaya dekarbonisasi tersebut diwujudkan dalam pengembangan green data center sebagai infrastruktur digital yang handal dan ramah lingkungan. Green data center menyediakan infrastruktur data yang menggunakan energi terbarukan serta penggunaan energi dan air yang efisien–diukur dengan Power Usage Effectiveness (PUE) dan Water Usage Effectiveness (WUE).